Prospek Saham Batu Bara Semester II/2026, AADI hingga BUMI Masuk Radar

2
Ketidakpastian RKAB, kenaikan biaya tambang, serta implementasi kebijakan PT DSI adalah faktor yang bikin saham batu bara bikin goyah. (bisnis.com)

Prospek saham batu bara pada semester II/2026 dinilai cukup konstruktif seiring peluang pemulihan produksi dan harga Newcastle yang diperkirakan tetap tinggi. Namun, investor masih perlu mencermati ketidakpastian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kenaikan biaya tambang, serta implementasi kebijakan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Sejumlah analis menilai emiten dengan biaya produksi rendah, kapasitas besar, dan kepastian operasional lebih baik berpeluang mencatatkan kinerja lebih kuat. Meski demikian, potensi tersebut tetap dibayangi volatilitas harga komoditas dan biaya bahan bakar.

Prospek Saham Batu Bara Ditopang Harga dan Pemulihan Produksi

Equity Research Analyst Panin Sekuritas Cliff Nathaniel melihat perbaikan operasional emiten produsen batu bara mulai terlihat pada kuartal II/2026. Kenaikan harga jual rata-rata berpotensi menopang pendapatan, tetapi dampaknya terhadap margin masih tertahan oleh kenaikan harga minyak dunia.

Bahan bakar minyak dapat menyumbang sekitar 40% dari total harga pokok penjualan. Karena itu, kenaikan harga batu bara belum sepenuhnya menghasilkan ekspansi margin. Sebaliknya, penurunan harga minyak dapat mengurangi biaya penambangan dan membuka ruang perbaikan margin.

Pemulihan produksi diperkirakan masih terbatas karena pemerintah menerapkan relaksasi RKAB secara terukur untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan. Emiten pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus dan berstatus BUMN dinilai mempunyai kepastian operasional relatif lebih baik.

Panin Sekuritas memperkirakan harga batu bara Newcastle pada semester II/2026 bertahan di atas US$120 per ton. Level tersebut dinilai mampu menopang profitabilitas perusahaan yang memiliki struktur biaya kompetitif.

Baca Juga: Harga Batu Bara Terus Merosot Drastis: Glencore Pangkas Produksi untuk Stabilkan Pasar!

AADI hingga BUMI Masuk Radar Analis

Panin Sekuritas menjadikan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. atau AADI sebagai pilihan utama sektor batu bara. AADI dinilai memiliki margin kas tinggi, profil batu bara mid-CV, stripping ratio rendah, cadangan besar, dan struktur biaya kompetitif.

Sucor Sekuritas turut memberikan pandangan positif terhadap AADI dan PT Bumi Resources Tbk. atau BUMI. Sucor sebelumnya memberikan rekomendasi Buy untuk AADI dengan target harga Rp12.600 per saham, didukung biaya produksi rendah, volume stabil, serta kemampuan menghasilkan arus kas.

Kiwoom Sekuritas menempatkan AADI, PT Bukit Asam Tbk. atau PTBA, PT Indo Tambangraya Megah Tbk. atau ITMG, BUMI, dan PT Golden Energy Mines Tbk. atau GEMS dalam radar. Harga Newcastle diproyeksikan berada pada kisaran US$120–US$145 per ton hingga akhir 2026.

Risiko utama saham batu bara meliputi volatilitas harga komoditas, kenaikan biaya penambangan akibat lonjakan harga BBM, ketidakpastian produksi, serta implementasi DSI yang berpotensi menambah biaya administrasi.

Prospek saham batu bara semester II/2026 masih didukung harga komoditas dan pemulihan produksi. Investor tetap perlu menilai struktur biaya, kepastian operasional, arus kas, dan risiko kebijakan setiap emiten sebelum mengambil keputusan.

Demikian informasi seputar perkembangan saham batu bara dan prediksinya. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Bulelengpagi.Com.

Tags: AADI, bisnis, BUMI, Ekonomi, emiten batu bara, GEMS, harga batu bara Newcastle, Investasi, Investasi Saham, ITMG, Keuangan, News, PTBA, RKAB, saham batu bara