PLTA Kayan Dibangun, Dua Jalur Disiapkan untuk Mobilisasi Alat

0
921

Akhir tahun 2019, PLTA Kayan rencananya akan mulai tahap konstruksi. Namun masih terkendala mobilisasi alat dan material.

Sudah sejak lama Indonesia mulai menggencarkan energi baru dan terbarukan (EBT). Salah satu usaha Indonesia dalam menghadirkan EBT adalah dengan dibangunnya PLTA di beberapa wilayah di Indonesia. Salah satu PLTA yang masih diusakan adalah PLTA Kayan.

Kalimantan Utara jadi provinsi terpilih untuk PLTA Kayan, tepatnya di Bulungan. PLTA ini digadang jadi pembangkit listrik tenaga air terbesar di Indonesia, bahkan Asia. Diproyeksi mampu menghasilkan listrik sebesar 9.000 MW. Dengan kapasitas sebesar itu, PLTA Kayan mampu mencukupi kebutuhan listrik di Kalimantan.

PT Kayan Hidro Energy Jadi Nahkoda Pembangunan PLTA Kayan

Seperti yang dilansir dari korankaltara.com, KHE terus melaporkan progres pembangunan PLTA yang membendung Sungai Kayan tersebut kepada Pemkab Bulungan, Jumat, (9/8/2019). Tidak terkecuali Bupati Bulungan, Sudjati.

Dalam laporan itu, KHE mengemukakan masalah mobilisasi alat dan material guna pembangunan. Seperti yang diketahui, untuk membangun PLTA Kayan, alat dan material yang dibutuhkan sangat banyak. Sementara akses menuju lokasi pembangunan masih belum memadai.

Dua jalur akan disiapkan untuk mobilisasi alat dan material pembangunan PLTA Kayan (jawapos.com)

Terkait hal tersebut, Sudjati menjelaskan rencana mobilisasi alat berat dan sejumlah material. Nantinya, mobilisasi tersebut akan dilakukan melalui dua jalur, yakni  jalur sungai dan jalur darat.

“Kali ini kita mendengar langsung, dan membahas bersama, progres KHE terkait PLTA. Ada beberapa hal yang disampaikan, termasuk salah satunya mengenai rencana mobilisasi alat berat mereka. Ada yang melalui sungai, ada juga via darat,” ungkap Sudjati.

Sudjati sempat memberi usulan kepada KHE untuk mulai memperbaiki akses darat menuju PLTA. Pembangunan tersebut perlu diperlukan karena akses darat akan berguna dalam jangka panjang.

“Nah, saat ini dimungkinkan juga melalui jalur darat. Untuk itu kami juga menawarkan agar KHE bisa membangun jalan menuju ke sana. Karena dalam jangka panjang, itu juga demi kepentingan KHE ke depannya. Apalagi kalau lewat sungai sebenarnya risikonya lebih tinggi,” kata Bupati Bulungan, Sudjati.

Sudjati berpendapat, akses darat justru lebih mungkin digunakan saat malam hari. Namun usulan tersebut masih dalam pertimbangan KHE. Saat ini, KHE masih melakukan beberapa survei di beberapa jembatan guna mendapatkan kepastian.

“Kita menawarkan saja ini. Pak Roni (PT.KHE) ternyata sudah juga melakukan survei di beberapa jembatan, seperti di Sungai Nyelung dan lainnya. Sehingga bisa mempertimbangkan lah aksesnya,” kata Sudjati lagi.

KHE dan pemerintah daerah Bulungan selaku tuan rumah memang terus melakukan pertemuan guna membahas progres pembangunan PLTA. Termasuk membahas beberapa izin yang harus dilengkapi. Masalah pengerukan sungai untuk akses mobilisasi, Pemkab Bulungan masih melakukaan tinjauan atas rekomendasi yang diusulkan tim teknis.